Ihyaul Ulum Dukun Gelar Harlah ke-75

Mencetak Tokoh Nasional, Ponpes Ihyaul Ulum Dukun Gresik Rayakan Milad Berlian ke-75


GRESIK – Suasana khidmat menyelimuti Aula Pondok Pesantren (Ponpes) Ihyaul Ulum Dukun, Gresik, saat keluarga besar dan santri berkumpul merayakan Milad ke-75 institusi pendidikan legendaris tersebut. Sejak didirikan pada 1 Januari 1951 oleh sang ulama kharismatik, KH. Ma’shum Sufyan, pesantren ini terus konsisten mencetak tokoh-tokoh besar di kancah daerah hingga nasional.

​Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini dihadiri langsung oleh seluruh Dzurriyyah (keturunan) KH. Ma’shum Sufyan—mulai dari anak, cucu, hingga cicit. Tak ketinggalan, jajaran pengurus lembaga, tenaga pendidik, serta ribuan siswa dari jenjang MTs, SMK, MA, hingga Perguruan Tinggi turut memadati lokasi untuk memberikan penghormatan bagi sejarah panjang pesantren mereka.
​Mencetak Pemimpin Bangsa
​Dalam perjalanannya selama tiga perempat abad, Ihyaul Ulum telah membuktikan diri sebagai "kawah candradimuka" bagi para pemimpin. Sederet nama besar tercatat sebagai alumni atau bagian dari keluarga besar pesantren ini, di antaranya:
​Alm. KH. Robbah Ma’shum (Mantan Bupati Gresik dua periode).
​Dr. H. Jazilul Fawaid, SQ., MA. (Ketua Fraksi DPR RI).
​Dr. H. Ahmad Iwan Zunaih (Gus Iwan) (Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur).
​H. Husnul Aqib (DPRD Gresik).
​Manaqib KH. Ma’shum Sufyan: Teladan Istiqomah. 


​Momen paling menyentuh terjadi saat Dr. H. Ahmad Iwan Zunaih, Lc., MM. menyampaikan Manaqib (riwayat hidup) sang pendiri. 

Gus Iwan membagikan tiga kunci utama kepribadian KH. Ma’shum Sufyan yang patut diteladani oleh generasi masa kini.
​1. Kekuatan Istiqomah
Gus Iwan menceritakan betapa luar biasanya kedisiplinan Yai Ma’shum. "Berkat keistiqomahannya, beliau mampu menghafal Al-Qur'an hanya dalam waktu 3 bulan," ungkapnya. Beliau juga dikenal sangat menjaga hafalannya dengan rutin nderes di depan rumah setiap pagi sembari menyapa tetangga. "Ini adalah bentuk Haqqul Jar atau adab bertetangga yang sangat mulia," tambah Gus Iwan.


​2. Pribadi yang Low Profile (Ya’laf Wa Yu’laf)
Meski merupakan ulama besar, Yai Ma’shum dikenal sebagai sosok yang sangat terbuka dan mampu menerima pendapat orang lain. Sifat inilah yang membuat nasihat-nasihat beliau sangat mudah diterima oleh masyarakat luas tanpa kesan menggurui.


​3. Warisan Surat Al-Ashr
Sebagai penutup majelis, Yai Ma’shum selalu membiasakan membaca Surat Al-Ashr bersama-sama. Beliau meyakini bahwa surat ini adalah kunci kebaikan yang mengandung nasihat mendalam tentang waktu dan kesabaran.
​Pesan untuk Pendidik: Generasi "Pintar dan Benar".


​Di hadapan para pendidik, Gus Iwan menitipkan pesan agar fokus membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual.
​"Kita harus menyiapkan generasi yang pintar dan benar. Bukan hanya ahli dalam ilmu pengetahuan, tapi yang utama adalah memiliki Akhlakul Karimah," tegasnya mengutip maqolah Imam Ghazali: "Qolilun Yadum Khoirun min Katsirin Laa Yadum" (Sedikit namun konsisten lebih baik daripada banyak namun terputus).


​Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Perkumpulan, KH. Afif Ma’shum, beserta para Dzurriyyah. Seluruh hadirin berharap momentum Harlah ke-75 ini menjadi sarana "gandolan sarunge kiai" agar kelak dapat berkumpul bersama di surga-Nya. (SGA)

Next Post Previous Post