Hijrah Jaman Now
BERHIJRAH MENUJU KEBAIKAN
Sobat gudangarab, Hijrah merupakan perubahan dalam segala dimensi kehidupan, jika dilihat secara objektif spirit dari hijrah dan melihat konteks pada masa kini. Fenomena hijrah menjadi fenomena yang populer beberapa tahun terakhir, terlebih di kalangan artis. Beberapa studi menunjukkan bahwa alasan adanya hijrah karena adanya revivalisme Islam hingga adanya pengaruh kapitalisme, sehingga muncul adanya komodifikasi agama. Hijrah secara sederhana diartikan sebagai berpindah atau meninggalkan sesuatu dari yang buruk ke arah sesuatu yang baik. Namun, fenomena yang terjadi di masyarakat bahwa hijrah dianggap sebagai meninggalkan sesuatu yang buruk (misalnya pakaian yang biasa saja menjadi pakaian syar’i) seringkali dipahami sebagai hijrah yang sesuai dengan sunnah Rasul, akan tetapi makna di balik kata hijrah dan peristiwa hijrah itu sendiri memiiliki arti yang mendalam dari sekedar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Secara bahasa, kata hijrah berasal dari bahasa arab _hijratan_ berbentuk _isim mashdar_ dari kata _hajara-yahjuru-hajran_ yang artinya berupa _tarakahu_ atau meninggalkan serta _qata’ahu_ yang artinya memustuskan. Kata hijrah terdiri dari dua pokok kandungan makna, pertama hijrah berarti putus pada satu sisi dan persambungan pada sisi lain.
Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti "meninggalkan". Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu, yaitu yang pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menuju keadaan yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam. Secara maknaiyah hijrah dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
a. Hijrah I’tiqadiyah
Yaitu hijrah keyakinan. Iman bersifat fluktuatif, kadang menguat menuju puncak keyakinan mukmin sejati, kadang pula melemah mendekati kekufuran iman, demikian pula kadang hadir dengan kemurniannya, tetapi kadang pula bersifat sinkretis, bercampur dengan keyakinan lain mendekati memusyrikan. Kita harus segera melakukan hijrah keyakinan bila berada di tepi jurang kekufuran dan kemusyrikan keyakinan. Dalam konteks psikologi biasa disebut dengan konversi keyakinan agama...
b. Hijrah Fikriyah
Fikriyah secara bahasa berasal dari kata fiqrun yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara oline kita akses.
Dunia yang kita tempati saat ini, sebenarnya telah menjadi medan perang yang kasat mata. Medan perang yang ada tapi tak disadari keberadaannya oleh kebanyakan manusia, genderang perang telah dipukul dalam medan yang namanya _Ghozwul Fikr_ (perang pemikiran).
Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut laksana dari senjata-senjata perengut nyawa. Isu sekularisme, kapitalisme, liberalisme, pluralisme, dan sosialisme bahkan komunisme telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran kita yang murni. Ia menjadi virus ganas yang sulit terdeteksi oleh kacamata pemikiran Islam. Hijrah fikriyah menjadi sangat penting mengingat kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut.
c. _Hijrah Syu’uriyyah_
Syu’uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya, semau yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kuarng Islami Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, pakaian, idola semua tidak luput dari pengaruh nilai-nilai di luar Islam. Terpengaruhi oleh para penganut paham _permisifisme_ (apapun boleh dilakukan) dan _hedonisme_ (senang hura-hura) hingga lupa diri dan lupa ibadah kepada-Nya.
Mode pakaian juga tak kalah pentingnya untuk kita perhatikan. Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian Islami, yaitu pakaian yang benar-benar mengedepankan fungsi bukan gaya. Apa fungsi pakaian ? Tak lain adalah untuk menutup aurat, bukan justru memamerkan aurat. Ironis memang banyak di antara manusia berpakaian tapi aurat masih terbuka.
d. _Hijrah Sulukiyyah_
Suluk berarti tingkah laku atau kepribadian atau biasa disebut juag akhlaq. Dalam perjalanannya ahklaq dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran dari kepribadian mulai _akhlaqul karimah_ menuju kepribadian tercela _akhlaqul sayyi’ah._ Sehingga tidak aneh jika bermuculan berbagai tindakan amoral dan asusila di masyarakat yang seolah-olah telah menjadi biasa dan lumrah dalam masyarakat kita. Kebohongan, keculasan, kecurangan, manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme, hampir bisa ditemui di mana-mana. Dalam moment hijrah ini, sangat tepat jika kita mengkoreksi akhlaq dan kepribadian kita untuk kemudian menghijrahkan diri menuju kebaikan pada akhlaq yang mulia.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengingatkan kita,
قال الشيخ ابن عثيمين - رحمه الله
وكلما غفل قلبك واندمجت نفسك في الحياة الدنيا ؛ فاخرج الى القبور ، وتفكر في هؤلاء القوم الذين كانوا بالأمس مثلك على الأرض
شرح رياض الصالحين ٤٧٣/٣
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata:
"Setiap kali hatimu lalai, dan jiwamu masuk dalam kehidupan dunia, maka keluarlah ke perkuburan..! Dan pikirkan mereka yang kemarin seperti dirimu di atas muka bumi."
(Syarah Riyadhus Shalihin 3/473)
Kebanyakan manusia menjalani kehidupan dunianya begitu saja tanpa meperhitungkan kehidupannya di akhirat kelak.
Padahal seandainya kita tahu betapa beratnya kehidupan setelah kematian, maka kita tidak akan bersantai dalam memanfaatkan waktu kita.
Seandainya kita tahu betapa kita sangat memerlukan akan pahala demi pahala dari amal shalih yang kita lakukan dan semuanya akan ditimbang, maka kita pasti akan berlomba-lomba dalam memperbanyak amal-amal kebaikan.
Seandainya kita tahu betapa dahsyatnya keadaan manusia berdiri di padang Mahsyar kelak, maka kita akan terus berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita sekuat tenaga.
Seandainya kita tahu betapa mengerikannya azab di neraka maka kita pasti akan menangisi kelalaian-kelalaian yang kita perbuat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»
"Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Al-Bukhary)
Ternyata sangat dasyat akibat dari kita menyia-nyiakan waktu.
إضاعة الوقت أشد من الموت، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها
[الفوائد لابن القيم]
"Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu itu memutuskanmu dari Allah dan kampung akhirat, sedang kematian itu memutuskanmu dari dunia dan penghuninya."(Al-Fawa'id, Ibnul Qayyim)
Menyia-nyiakan waktu itu adalah melakukan aktifitas yang melalaikan dari Allah Azza wa Jalla. Karena itu, aktifitas apapun yang kita lakukan jangan sampai membuat lalai dari Allah Azza wa Jalla...
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berhijrah menuju kebaikan, memanfaatkan sisa kehidupan dengan amalan-amalan terbaik sebagai bekal di akhirat kelak untuk meraih ridha-Nya.
