Makna mendalam lomba 17 an
JANGANLAH TERLALU DINI MENILAI
Sobat gudangarab, Makna lomba kompetisi 17 Agustusan bukan sekadar hiburan atau bersenang-senang, melainkan wujud syukur atas kemerdekaan, sarana mempererat kebersamaan, serta pengingat perjuangan masa lalu. Berbagai jenis lomba menyimpan nilai filosofis dan sejarah perjuangan bangsa. Nilai filosofis di balik lomba makan kerupuk adalah mengingatkan masa-masa sulit dan krisis pangan pada era penjajahan, di mana rakyat hidup penuh keprihatinan dan makan dengan lauk seadanya.
Balap karung, menyimbolkan kondisi masyarakat Indonesia tempo dulu yang sangat miskin hingga terpaksa menggunakan karung goni sebagai pakaian. Tarik tambang, nencerminkan nilai gotong royong, solidaritas, dan kekuatan persatuan untuk mencapai tujuan bersama.
Panjat pinang, menggambarkan kerja keras, kerja sama tim, dan strategi pantang menyerah untuk menggapai puncak atau cita-cita tertinggi meski penuh rintangan. Balap bakiak mengajarkan pentingnya kekompakan, komunikasi, dan keselarasan langkah antar-individu dalam satu kelompok.
Hakikat kemenangan dalam sebuah kompetisi itu adalah suksesnya sebuah perjuangan untuk meraih kemenangan dengan penuh kejujuran, bukanlah merekayasa dan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan.
Karena sebuah kompetisi sangat erat kaitannya dengan sportifitas, kalau sebuah kompetisi diwarnai kecurangan, maka sebuah kemenangan yang diraih pun sama halnya dengan sebuah kekalahan. Apa artinya kemenangan kalau hanya bernilai dalam sebutan, namun secara etika dan moral malah bernilai kekalahan.
Lebih baik kalah dalam kompetisi, tapi menang secara etika dan moral. Karena sekalipun kalah, namun masih memiliki sikap etika dan moral. Untuk apa menang, kalau sejatinya kalah. Kemenangan sejatinya adalah mengalahkan syahwat keinginan untuk melakukan kecurangan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa orang-orang yang berbuat curang bukanlah termasuk golongannya,
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Siapa saja menipu (berbuat curang) maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim)
Jadilah pemenang sejati, pemenang yang memang layak dimenangkan, bukanlah pemenang yang pada akhirnya hanya menjadi pecundang. Juara sejati bukanlah pemenang yang sudah mengalahkan lawannya, tapi pemenang yang sudah mampu menaklukkan dirinya sendiri...
Islam sangat melarang kecurangan dalam bentuk apa pun. Bahkan, dalam Al-Qur’an ada surat bernama Al-Muthaffifin yang berarti “orang-orang curang”. Surat tersebut diawali dengan ancaman,
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
"Celakalah bagi orang-orang yang curang!" (QS. Al-Mutaffifin: 1)
Dalam Tafsir _Al-Jalalain_ disebutkan bahwa lafal _wailun_ juga merupakan nama lembah di neraka Jahanam untuk orang-orang yang curang, culas, tidak jujur...
Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَالْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena sungguh kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Hati-hatilah kalian dari berdusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan pada kejahatan, dan kejahatan akan mengantarkan ke neraka." (HR. Malik no. 16)
Untuk yang belum mampu meraih kemenangan tetaplah yakin bahwa segala kehendak ( _iradah_)-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Firman Allah Azza wa Jalla yang mengajarkan kepada kita prinsip yang benar dalam menghadapi kehidupan ini, obat segala kegalauan, pelipur semua lara,
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُون
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Sikap kita adalah menerima kondisi yang ada, suka tidak suka, karena kita tidak tahu apakah yang kita sukai baik untuk kita atau buruk, hanya Allah Azza wa Jalla yang tahu. Laksanakan perintah Allah Azza wa Jalla, walaupun berat untuk jiwa, tinggalkan larangan-Nya walaupun nafsu ingin melakukannya, karena kita yakin Allah Maha Tahu dengan yang kita butuhkan. Lihatlah Umar bin Khatthab Radhiyallahu Anhu berkata,
«مَا أُبَالِي عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ، عَلَى مَا أُحِبُّ أَوْ عَلَى مَا أَكْرَهُ، وَذَلِكَ لِأَنِّي لَا أَدْرِي الْخَيْرَ فِيمَا أُحِبُّ أَوْ فِيمَا أَكْرَهُ
“Aku tidak peduli di atas kondisi apa keadaanku, di atas hal yang aku cintai atau yang aku benci, dikarenakan aku tidak tahu kebaikan itu ada pada yang aku cintai atau pada yang aku benci”.(HR. Ibnu Abi Dunia, al-Faraj bakda asysyiddah No.13)
Janganlah terlalu dini menilai sesuatu, tetaplah istiqamah senantiasa berbaik sangka pada Sang Pencipta, Dialah Allah Azza wa Jalla yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita...
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berbaik sangka atas _iradah_ Allah Azza wa Jalla untuk meraih ridha-Nya
